Grup Bakrie Konsolidasi Aset
04 Mar 2010
Nilai aset nonbatu bara dari sejumlah perusahaan Bumi Resources yang akan dikonsolidasikan ke perusahaan baru mencapai 1,313 miliar dollar AS atau 72 persen dari ekuitasnya. Namun, manajemen menganggap transaksi itu tidak material.
JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk akan menyatukan sejumlah kepemilikannya diberbagai anak perusahaan dan afiliasinya ke dalam sebuah perusahaan baru, yakni PT Bumi Resources Mineral (BRM). BRM akan membawahi seluruh aset nonbatu bara dengan nilai aset yang dikelola sekitar 1,313 miliar dollar AS atau 13 triliun rupiah."Kami melihat ini sebagai sebuah langkah logis yang strategis," kata Senior VP Investor Relations Bumi, Dileep Srivastava, dalam pesan singkatnya, Rabu
(3/3). Ini merupakan restrukturisasi internal dalam rangka mengelompokkan perusahaan ke perusahaan batu bara dan perusahaan nonbatu bara.Pemisahan yang jelas antara bisnis inti Bumi di batu bara dan bisnis nonbatu bara yang memiliki potensi bisnis yang sangat baik itu, menurut Dileep, akan menjadi kunci bagi pengembangan perseroan selanjutnya.Direktur Bumi Resources Eddie J Soebari, sebelumnya, juga menjelaskan bahwa Bumi telah menyelesaikan konsolidasi anak-anak perusahaan yang bergerak di bidang nonbatu bara ke dalam BRM.
"BRM adalah anak perusahaan-perusahaan yang 99,99 persen sahamnya dimiliki oleh perseroan," kata Eddie dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, Selasa (2/3).Menurut Eddie, konsolidasi dilakukan oleh perseroan melalui peningkatan modal BRM, yang kemudian digunakan untuk mengambil alih tagihan-tagihan milik perseroan kepada anak-anak perusahaan nonbatu bara. Selanjutnya, tagihan-tagihan tersebut akan dikonversi menjadi saham.Anak-anak perusahaan dan afiliasinya yang dikonsolidasikan ke dalam BRM tersebut termasuk Lemington Investments Pte Ltd yang memiliki Bumi Mauritania SA, dan Kon-blo Bumi Inc. Per 30 September 2009, total aset kedua anak usaha itu masing-masing 168,48 juta dollar AS dari 13,67 juta dollar AS.
Selanjutnya, Calipso Investment Pte Ltd yang memiliki Herald Resources Ltd akan dikonsolidasikan ke BRM. Total aset di perusahaan pemilik area tambang seng dan tembaga itu tercatat sebesar 614,42 juta dollar AS. Kemudian PT Citra Palu Minerals dengan aset 24,06 juta dollar AS.Bumi juga akan mengonsolidasikan PT Multi Capital yang baru saja menguasai 14 persen saham hasil divestasi Newmont Nusa Tenggara. Total dana yang sudah digelontorkan Multi Capital tersebut telah mencapai 492,8 juta dollar AS.
Tidak Material
Kendati total aset sejumlah perusahaan yang akan dikem-solidasikan ke BRM tersebut telah mencapai 1,313 miliar dollar AS atau 72 persen dari ekuitas Bumi sebesar 1,8 miliar dollar AS, Eddie mengaku transaksi tersebut bukan tergolong material. "Transaksi di atas tidak termasuk kategori transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bapepam-LK Nomor K.E.2," katanya.
Analis Eko Kapital, Cece Ridwanulloh, menilai langkah Bumi memisah bisnis batu bara dengan bisnis nonbatu bara akan membuatnya lebih fokus mengembangkan kedua Uni bisnis tersebut. Dengan pemisahan yang jelas, kedua Uni bisnis tersebut diharapkan bisa tumbuh tanpa saling membebani."Aksi adanya pemisahan ini sama dengan yang dilakukan oleh Indofood ketika memisah Bogasari dan akhirnya memang terbukti hasilnya memang lebih baik," katanya secara terpisah. nse/E-7
AKARTA - PT Elnusa Tbk (ELSA) menargetkan pendapatan di 2011 sebesar Rp961 miliar. Adapun target ini akan dikontribusikan dari unit bisnis seismic zona transisi dan laut.
"Di 2011 kita targetkan pendapatan sebesar Rp961 miliar," ujar Division Head of Corporate Secretary Elnusa, Heru Samodra, dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (10/1/2011).
Diharapkan, dengan adanya penambahan investasi peralatan seismik laut dalam ini dapat meningkatkan pendapatan usaha konsolidasi perseroan dari unit bisnis seismik zona transisi dan laut dalam di 2011 ini.
"Di mana unit bisnis ini diprediksikan akan memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp961 miliar atau menyumbang sekira 27 persen dari total proyeksi pendapatan usaha kelompok jasa hulu migas Perseroan 2011 yang sebesar Rp3,6 triliun," katanya.
Bisnis seismik zona transisi dan laut dalam tersebut telah tumbuh secara signifikan atau naik sebesar 112 persen setiap tahunnya dalam waktu tiga tahun terakhir ini (CAGR). Investasi peralatan seismik laut dalam pada kapal operasi tersebut sejalan dengan iklim industri dan regulasi yang mendukung, dalam hal ini menyangkut perihal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan azas cabotage.
Seperti yang sedang hangat dibicarakan, dua regulasi tersebut cukup meningkatkan gairah dan kesempatan perusahaan nasional untuk lebih berkontribusi di pasar domestik.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perseroan telah menunjukkan implementasi pelaksanaan pekerjaan seismik di berbagai daerah transisi di Indonesia di antaranya di Gresik-Jawa Timur, Handil dan Tunu-Kalimantan Timur, Seruway-Aceh, Bontang–Kalimantan Timur, Selat Sele, serta Teluk Bintuni Dan Kaimana-Papua.
Sementara itu, dengan strategi usaha jangka panjang, perseroan untuk fokus pada jasa hulu migas terintegrasi, maka perseroan secara konsisten terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi untuk melakukan seluruh rangkaian kegiatan jasa hulu migas terintegrasi.
Mulai dari kegiatan geoscience services (jasa seismik), drilling services (jasa pemboran) dan oilfield services yang mencakup pasar domestik dan luar negeri. Pendapatan usaha dari segmen ini bertumbuh secara CAGR sebesar 28 persen setiap tahunnya dalam lima tahun terakhir dan terus menjadi kontributor utama pendapatan usaha Perseroan.
Diketahui, pada akhir 2010, segmen ini diproyeksikan menyumbang 60 persen (Rp2,40 triliun) terhadap total estimasi pendapatan konsolidasi perseroan yang sebesar Rp4,02 triliun.
Dari seluruh rangkaian jasa hulu migas terintegrasi, kegiatan survey seismic yang dilakukan oleh Divisi Geoscience Services merupakan penyumbang terbesar di segmen jasa hulu migas terintegrasi atau berkontribusi 60 persen (Rp1,35 triliun) terhadap pendapatan usaha dari segmen ini.
Tingginya kontribusi Geoscience Services ditopang oleh tumbuhnya pandapatan seismik di zona transisi dan laut dalam (Transition Zone and Marine Seismic) secara signifikan yang diestimasikan mencapai lebih dari Rp900 miliar pada akhir tahun 2010.
"Di 2011 kita targetkan pendapatan sebesar Rp961 miliar," ujar Division Head of Corporate Secretary Elnusa, Heru Samodra, dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (10/1/2011).
Diharapkan, dengan adanya penambahan investasi peralatan seismik laut dalam ini dapat meningkatkan pendapatan usaha konsolidasi perseroan dari unit bisnis seismik zona transisi dan laut dalam di 2011 ini.
"Di mana unit bisnis ini diprediksikan akan memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp961 miliar atau menyumbang sekira 27 persen dari total proyeksi pendapatan usaha kelompok jasa hulu migas Perseroan 2011 yang sebesar Rp3,6 triliun," katanya.
Bisnis seismik zona transisi dan laut dalam tersebut telah tumbuh secara signifikan atau naik sebesar 112 persen setiap tahunnya dalam waktu tiga tahun terakhir ini (CAGR). Investasi peralatan seismik laut dalam pada kapal operasi tersebut sejalan dengan iklim industri dan regulasi yang mendukung, dalam hal ini menyangkut perihal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan azas cabotage.
Seperti yang sedang hangat dibicarakan, dua regulasi tersebut cukup meningkatkan gairah dan kesempatan perusahaan nasional untuk lebih berkontribusi di pasar domestik.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perseroan telah menunjukkan implementasi pelaksanaan pekerjaan seismik di berbagai daerah transisi di Indonesia di antaranya di Gresik-Jawa Timur, Handil dan Tunu-Kalimantan Timur, Seruway-Aceh, Bontang–Kalimantan Timur, Selat Sele, serta Teluk Bintuni Dan Kaimana-Papua.
Sementara itu, dengan strategi usaha jangka panjang, perseroan untuk fokus pada jasa hulu migas terintegrasi, maka perseroan secara konsisten terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi untuk melakukan seluruh rangkaian kegiatan jasa hulu migas terintegrasi.
Mulai dari kegiatan geoscience services (jasa seismik), drilling services (jasa pemboran) dan oilfield services yang mencakup pasar domestik dan luar negeri. Pendapatan usaha dari segmen ini bertumbuh secara CAGR sebesar 28 persen setiap tahunnya dalam lima tahun terakhir dan terus menjadi kontributor utama pendapatan usaha Perseroan.
Diketahui, pada akhir 2010, segmen ini diproyeksikan menyumbang 60 persen (Rp2,40 triliun) terhadap total estimasi pendapatan konsolidasi perseroan yang sebesar Rp4,02 triliun.
Dari seluruh rangkaian jasa hulu migas terintegrasi, kegiatan survey seismic yang dilakukan oleh Divisi Geoscience Services merupakan penyumbang terbesar di segmen jasa hulu migas terintegrasi atau berkontribusi 60 persen (Rp1,35 triliun) terhadap pendapatan usaha dari segmen ini.
Tingginya kontribusi Geoscience Services ditopang oleh tumbuhnya pandapatan seismik di zona transisi dan laut dalam (Transition Zone and Marine Seismic) secara signifikan yang diestimasikan mencapai lebih dari Rp900 miliar pada akhir tahun 2010.
PT Humpuss Intermoda Fokus Konsolidasi Internal
Jakarta,- PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) masih akan memfokuskan pada konsolidasi internal menyikapi terus menurunnya pendapatan usaha hingga mencapai 56,62% pada bulan September 2010 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama HITS Bagoes Krisnamoerti mengungkapkan hingga akhir tahun 2010 ini, perseroan tidak akan melakukan ekspansi apapun, melainkan lebih melakukan perbaikan internal perusahaan. �Manajemen berniat untuk membenahi internal perusahaan, berupa penyelesaian kasus hukum, optimalisasi alat produksi, memaksimalkan jasa crewing, efisiensi operasional perusahaan dan mencari sumber pendanaan yang efisien dan efektif,� ujarnya.
Khusus mengenai kasus hukum, Dirut HITS menegaskan bahwa manajemen memprioritaskan kasus-kasus yang sedang ditangani. Dari empat kasus hukum, baru satu yang terselesaikan, kasus hukum antara Heritage Maritime Ltd dan Genuine Maritime Ltd. dengan Sandigan Ship Service Inc yang telah mencapai kesepakatan perdamaian. Sehingga sengketa hukum antara perusahaan dengan Sandigan telah selesai.
Sedangkan tiga kasus lainnya, masih dalam proses penyelesaian dan dikarenakan proses arbitrase, kondisi penyelesaiannya pun menjadi tidak pasti. �Tiga kasus tersebut, adalah kasus hukum antara Heritage Maritime Ltd.SA (HML) dengan Parbulk II AS, kasus hukum antara Genuine Maritime Ltd. SA (GML) dengan Hanjin Overseas Bulk Limited terkait bareboat kapal dry bulk, dan kasus hukum antara Humpuss Sea Transport Pte. dengan 7 pemilik kapal chemical Empire,� jelasnya.
Penurunan Pendapatan Usaha
Hingga 30 September 2010, HITS merugi bersih sebesar Rp. 48,23 milyar. Sementara pada 30 September 2009 HITS mencetak laba bersih Rp. 10,34 milyar. Beberapa hal yang menjadi penyebab cukup drastis turunnya pendapatan usaha, dikarenakan berbagai faktor seperti turunnya rate charter sewa kapal LNG ST Ekaputra, tidak beroperasinya kapal curah kering dikarenakan masalah sengketa antara Perseroan dengan para pemilik kapal, tidak beroperasinya empat kapal Empire pengangkut bahan kimia cair dikarenakan oleh masalah sengketa juga serta kerusakan beberapa kapal pengangkut minyak mentah dan bahan bakar minyak sehingga tidak dapat beroperasi.
Hal ini menyebabkan total pendapatan usaha yang kian menurun drastis sebesar 56,62% per 30 September 2010 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari tujuh lingkup bisnis yang dijalankan perseroan, hanya jasa sewa kapal batubara serta jasa pengelolaan dan perantara kapal yang mengalami kenaikan rata-rata sekitar 15-20% sedangkan lingkup usaha lainnya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Yang paling drastis, adalah jasa sewa kapal bahan kimia cair sebesar 91,97%. Turunnya pendapatan pada lingkup bisnis ini, terkait dengan kasus kapal Empire. Dimana sejak akhir tahun 2009 sudah tidak beroperasinya empat buah kapal chemical Empire, karena telah dikembalikan kepada pemiliknya. Hal ini pula yang menandai dimulainya kasus hukum antara HST dengan 7 pemilik kapal Empire.
HITS memang masih akan terus melakukan konsolidasi internal, dan memperkuat neraca keuangannya akibat beban berat terutama pada tahun 2010. Dengan kondisi ketidakpastian akibat kasus-kasus hukum yang belum terselesaikan dikarenakan proses arbitrase, fluktuasi tarif angkutan laut yang cenderung menurun, dan kompetisi yang semakin meningkat, perseroan optimis mulai bangkit kembali pada semester dua tahun 2011 dan akan terus berlanjut pertengahan tahun 2011.
PT Meier Indonesia, perusahaan yang awalnya memfokuskan diri di bidang riset dan pengembangan produk, saat ini tengah menjajaki kerjasama bisnis dengan PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD), anak perusahaan PT Kimia Farma Tbk, perusahaan farmasi pertama di Indonesia yang kini telah berkembang pesat
Kerjasama ini kami lakukan sekaligus memberitahukan ke masyarakat bahwa Kimia Farma itu bukan cuma apotek, tempat menjual obat semata. Tetapi juga sebagai perusahaan pelayanan kesehatan terintegrasi yang meliputi Industri, Pemasaran, Distribusi, Ritel, Laboratorium Klinik dan Klinik Kesehatan, dan Industri Farmasi. Inilah juga salah satu alasan kami untuk bekerjasama,” ujar Martin Lim, CEO PT Meier Indonesia. Dan bagi KFTD sendiri, sebenarnya, kerjasama tersebut bukan hal baru. “Karena, sebelumnya, kami juga sudah melakukan bentuk kerjasama dengan produk-produk lain dengan perusahaan yang berbeda,” ujar Suharno, pria kelahiran Surabaya, 4 Agustus 1958 yang menjabat sebagai Direktur Distribusi PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD). Ada beberapa hal yang disepakati bersama. Di antaranya adalah bahwa bentuk kerjasama PT Kimia Farma Tbk, dalam hal ini KFTD, dengan PT Meier Indonesia, adalah bentuk kerjasama tunggal dan eksklusif, di mana KFTD, terikat kontrak yang didasari atas dasar kesepahaman bersama. “KFTD, tidak diperkenankan memasarkan produk-produk sejenis mulai cabang di daerah-daerah sampai ke outlet-otutletnya. Sedangkan aktivitas marketing tetap dilakukan oleh PT Meier. Dan tentu saja harus dengan harga jual yang terjangkau. Semua ini sudah kami fahami bersama,” lanjut Martin
Bagi KFTD sendiri, kerjasama dengan PT Meier Indonesia, juga tidak dilakukan dengan terburu-buru. “Sebagai anak perusahaan, KFTD, sejak awal memang sudah memikirkan pangsa pasar untuk produk-produk yang akan kami distribusikan. Termasuk selanjutnya dengan produk-produk kosmetik. Kebetulan, kami melihat PT. Meier Indonesia ini merupakan satu perusahaan yang berkembang. Peduli dengan kesehatan. Makanya, kami bekerjasama untuk melakukan bagaimana produk Meier bisa sampai ke pasar. Inilah sinergi yang kita ciptakan dalam rangka mengembangkan demand pasar,” ujar Suharno sambil menjelaskan bahwa kini Kimia Farma sudah memiliki 41 cabang dengan jumlah outlet di seluruh Indonesia sekitar 24 ribu dengan konsentrasi terbesar di pulau Jawa. Ketika disinggung mengenai produk-produk perawatan kulit milik Meier, Suharno menjelaskan bahwa produk-produk Meier itu tidak mengandung mercury, hidroquinone dan alcohol. “Karakter kulit orang Indonesia ini kan cukup unik. Dan sebagai apoteker, kami faham betul seperti apa produk yang bermutu itu. Bagi kami penting sekali asal dari semua produk yang kami pasarkan. Sumbernya harus jelas. Dan produk Meier memang tidak ada masalah dengan kandungannya. Tidak mengandung mercury & hidroquinone. Tetapi, yang pasti, produk ini sudah memiliki rilis resmi dari Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM RI). Makanya kami berani mendistribusikan produk Meier,” sambung Suharno sambil menjelaskan jalur usaha KFTD, yaitu di bidang Jasa pelayanan distribusi produk Prinsipal KF dan Principal Non KF, yang terdiri dari Consumer Health Product (OTC Chemical, OTC Herbal, Kosmetik, Body Care, Food Supplement, Ethical, Generik, Lisensi, Narkotika, Kontrasepsi, Bahan Baku, Alat Kesehatan, Consumer Goods) dan Jasa Perdagangan atau Trading.
Pangsa pasar produk perawatan kulit memang khusus. “Contoh spesifiknya adalah apotik, medical outlet, klinik, toko-toko kosmetik, dan masih banyak lagi. Nah, pangsa pasar ini lah yang kita mau garap, lebih khusus untuk pasar menengah atas. Dan untuk produk-produk yang awal, yang sudah kami pasarkan tahun ini, adalah produk Meier untuk wanita. Hari ini, kita akan sama-sama menjadi saksi bahwa Meier akan meluncurkan produk khusus untuk laki-laki. Kami, dari KFTD dan Meier Indonesia, sama-sama sudah memikirkan strategi pemasarannya. Bisa melalui below the line, above the line, flyer, beriklan di majalah, koran, tabloid, baik yang nasional maupun loikal. Rencananya, untuk di daerah, juga akan ada program roadshow dan kegiatan gathering,” kata Suharno yang diiyakan oleh Martin Lim
Saat ini, produk-produk perawatan kulit Meier sudah dapat ditemukan di seluruh Nusantara. “Tentu saja ini adalah berkat dukungan penuh dari PT Kimia Farma Trading & Distribution. Di mana dukungan ini dituang dalam perjanjian kerjasama “Distribusi Tunggal dan Saling Eksklusif”. Artinya, dalam menjual dan mendistribusikan produknya, PT Meier Indonesia tidak dapat menunjuk distributor selain ataupun tanpa melalui PT Kimia Farma Trading & Distribution. Sebaliknya, PT Kimia Farma Trading & Distribution, tidak diperbolehkan ataupun mendistribusikan produk perawatan tubuh selain produk dari Kimia Farma sendiri dan PT Meier Indonesia. Pada intinya, ini kami lakukan atas dasar win-win solution. Dan melalui kerjsama ini, masyarakat menjadi makin faham, kalau Kimia Farma itu memang bukan cuma apotek. Tapi juga ikut memperdagangkan dan mendistribusikn produk-produk Meier ke seluruh Indonesia Tidak hanya melalui apotik. tetapi juga melalui Supermarket, Farmasi, Toko Obat, dan Toko Kosmetik, “ tegas Martin Lim, pria kelahiran Jakarta, 7 Desember 1978
Produk baru yang hari ini segera diluncurkan oleh PT. Meier Indonesia bekerjasama dengan KFTD adalah Hedi Yunus For Men. Khusus untuk produk ini, PT Meier Indonesia memilih Hedi Yunus, vokalis Kahitna, yang telah sukses mengukir prestasi di dunia musik Tanah Air sekitar 20 tahun sebagai icon-nya dan juga merek produk. “Proses pemilihan Hedi untuk menjadi icon dari produk Hedi Yunus For Men semua berdasarkan hasil riset dan survey pasar oleh lembaga marketing survey independent. Bukan asumsi pribadi. Akhirnya, kami sampai pada kesimpulan bahwa Hedi adalah sosok pria yang tepat untuk icon sekaligus merek produk terbaru kami. Lebih jauh lagi, menurut kami Hedi itu bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari yang muda sampai yang tua, termasuk pangsa pasar produk Hedi Yunus For Men. Bukan hanya itu., Hedi itu juga masih eksis. Buktinya, tahun ini, ia akan segera meluncurkan album solo lagi,” tegas Martin. Rencananya, vokalis Kahitna ini memang akan merilis album solo ke-7. “Makanya saya sangat bersyukur dan berterimakasih bisa terpilih sebagai icon dari produk khusus pria produksi PT Meier Indonesia. Bagi saya, ini adalah satu kesempatan menarik. Kayaknya belum ada di Indonesia yang khusus menggunakan nama artisnya. Makanya, saya appreciate sekali kepada PT Meier Indonesia. Termasuk kepada PT Kimia Farma Trading & Distribution, dan pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, atas dukungan, kepercayaan dan kerjasama yang sudah terjalin dengan baik. Khusus untuk produk pria ini, saya juga senang karena selalu dilibatkan dan diajak diskusi, misalnya untuk pemilihan aroma, penentuan jenis produk yang mau dikeluarkan, pemilihan warna kemasan, sampai ke pemilihan nama,” jelas artis yang dikontrak selama 10 tahun oleh PT Meier Indonesia ini. Perasaan yang sama juga diutarakan oleh Siska Amelia, Runner Up 1 Puteri Indonesia tahun 2003 yang saat ini berprofesi sebagai Business Development Director sebuah perusahaan komputer di Tanah Air yang berafiliasi hingga ke Las Vegas, Amerika Serikat. “Saya senang dan bangga terpilih menjadi Duta Meier, khusus untuk perawatan kulit wanita. Ini adalah sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Produk Meier ini produk bagus dan sesuai untuk perawatan kulit wanita Indonesia,” tegas Siska
Kerjasama ini kami lakukan sekaligus memberitahukan ke masyarakat bahwa Kimia Farma itu bukan cuma apotek, tempat menjual obat semata. Tetapi juga sebagai perusahaan pelayanan kesehatan terintegrasi yang meliputi Industri, Pemasaran, Distribusi, Ritel, Laboratorium Klinik dan Klinik Kesehatan, dan Industri Farmasi. Inilah juga salah satu alasan kami untuk bekerjasama,” ujar Martin Lim, CEO PT Meier Indonesia. Dan bagi KFTD sendiri, sebenarnya, kerjasama tersebut bukan hal baru. “Karena, sebelumnya, kami juga sudah melakukan bentuk kerjasama dengan produk-produk lain dengan perusahaan yang berbeda,” ujar Suharno, pria kelahiran Surabaya, 4 Agustus 1958 yang menjabat sebagai Direktur Distribusi PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD). Ada beberapa hal yang disepakati bersama. Di antaranya adalah bahwa bentuk kerjasama PT Kimia Farma Tbk, dalam hal ini KFTD, dengan PT Meier Indonesia, adalah bentuk kerjasama tunggal dan eksklusif, di mana KFTD, terikat kontrak yang didasari atas dasar kesepahaman bersama. “KFTD, tidak diperkenankan memasarkan produk-produk sejenis mulai cabang di daerah-daerah sampai ke outlet-otutletnya. Sedangkan aktivitas marketing tetap dilakukan oleh PT Meier. Dan tentu saja harus dengan harga jual yang terjangkau. Semua ini sudah kami fahami bersama,” lanjut Martin
Bagi KFTD sendiri, kerjasama dengan PT Meier Indonesia, juga tidak dilakukan dengan terburu-buru. “Sebagai anak perusahaan, KFTD, sejak awal memang sudah memikirkan pangsa pasar untuk produk-produk yang akan kami distribusikan. Termasuk selanjutnya dengan produk-produk kosmetik. Kebetulan, kami melihat PT. Meier Indonesia ini merupakan satu perusahaan yang berkembang. Peduli dengan kesehatan. Makanya, kami bekerjasama untuk melakukan bagaimana produk Meier bisa sampai ke pasar. Inilah sinergi yang kita ciptakan dalam rangka mengembangkan demand pasar,” ujar Suharno sambil menjelaskan bahwa kini Kimia Farma sudah memiliki 41 cabang dengan jumlah outlet di seluruh Indonesia sekitar 24 ribu dengan konsentrasi terbesar di pulau Jawa. Ketika disinggung mengenai produk-produk perawatan kulit milik Meier, Suharno menjelaskan bahwa produk-produk Meier itu tidak mengandung mercury, hidroquinone dan alcohol. “Karakter kulit orang Indonesia ini kan cukup unik. Dan sebagai apoteker, kami faham betul seperti apa produk yang bermutu itu. Bagi kami penting sekali asal dari semua produk yang kami pasarkan. Sumbernya harus jelas. Dan produk Meier memang tidak ada masalah dengan kandungannya. Tidak mengandung mercury & hidroquinone. Tetapi, yang pasti, produk ini sudah memiliki rilis resmi dari Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM RI). Makanya kami berani mendistribusikan produk Meier,” sambung Suharno sambil menjelaskan jalur usaha KFTD, yaitu di bidang Jasa pelayanan distribusi produk Prinsipal KF dan Principal Non KF, yang terdiri dari Consumer Health Product (OTC Chemical, OTC Herbal, Kosmetik, Body Care, Food Supplement, Ethical, Generik, Lisensi, Narkotika, Kontrasepsi, Bahan Baku, Alat Kesehatan, Consumer Goods) dan Jasa Perdagangan atau Trading.
Pangsa pasar produk perawatan kulit memang khusus. “Contoh spesifiknya adalah apotik, medical outlet, klinik, toko-toko kosmetik, dan masih banyak lagi. Nah, pangsa pasar ini lah yang kita mau garap, lebih khusus untuk pasar menengah atas. Dan untuk produk-produk yang awal, yang sudah kami pasarkan tahun ini, adalah produk Meier untuk wanita. Hari ini, kita akan sama-sama menjadi saksi bahwa Meier akan meluncurkan produk khusus untuk laki-laki. Kami, dari KFTD dan Meier Indonesia, sama-sama sudah memikirkan strategi pemasarannya. Bisa melalui below the line, above the line, flyer, beriklan di majalah, koran, tabloid, baik yang nasional maupun loikal. Rencananya, untuk di daerah, juga akan ada program roadshow dan kegiatan gathering,” kata Suharno yang diiyakan oleh Martin Lim
Saat ini, produk-produk perawatan kulit Meier sudah dapat ditemukan di seluruh Nusantara. “Tentu saja ini adalah berkat dukungan penuh dari PT Kimia Farma Trading & Distribution. Di mana dukungan ini dituang dalam perjanjian kerjasama “Distribusi Tunggal dan Saling Eksklusif”. Artinya, dalam menjual dan mendistribusikan produknya, PT Meier Indonesia tidak dapat menunjuk distributor selain ataupun tanpa melalui PT Kimia Farma Trading & Distribution. Sebaliknya, PT Kimia Farma Trading & Distribution, tidak diperbolehkan ataupun mendistribusikan produk perawatan tubuh selain produk dari Kimia Farma sendiri dan PT Meier Indonesia. Pada intinya, ini kami lakukan atas dasar win-win solution. Dan melalui kerjsama ini, masyarakat menjadi makin faham, kalau Kimia Farma itu memang bukan cuma apotek. Tapi juga ikut memperdagangkan dan mendistribusikn produk-produk Meier ke seluruh Indonesia Tidak hanya melalui apotik. tetapi juga melalui Supermarket, Farmasi, Toko Obat, dan Toko Kosmetik, “ tegas Martin Lim, pria kelahiran Jakarta, 7 Desember 1978
Produk baru yang hari ini segera diluncurkan oleh PT. Meier Indonesia bekerjasama dengan KFTD adalah Hedi Yunus For Men. Khusus untuk produk ini, PT Meier Indonesia memilih Hedi Yunus, vokalis Kahitna, yang telah sukses mengukir prestasi di dunia musik Tanah Air sekitar 20 tahun sebagai icon-nya dan juga merek produk. “Proses pemilihan Hedi untuk menjadi icon dari produk Hedi Yunus For Men semua berdasarkan hasil riset dan survey pasar oleh lembaga marketing survey independent. Bukan asumsi pribadi. Akhirnya, kami sampai pada kesimpulan bahwa Hedi adalah sosok pria yang tepat untuk icon sekaligus merek produk terbaru kami. Lebih jauh lagi, menurut kami Hedi itu bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari yang muda sampai yang tua, termasuk pangsa pasar produk Hedi Yunus For Men. Bukan hanya itu., Hedi itu juga masih eksis. Buktinya, tahun ini, ia akan segera meluncurkan album solo lagi,” tegas Martin. Rencananya, vokalis Kahitna ini memang akan merilis album solo ke-7. “Makanya saya sangat bersyukur dan berterimakasih bisa terpilih sebagai icon dari produk khusus pria produksi PT Meier Indonesia. Bagi saya, ini adalah satu kesempatan menarik. Kayaknya belum ada di Indonesia yang khusus menggunakan nama artisnya. Makanya, saya appreciate sekali kepada PT Meier Indonesia. Termasuk kepada PT Kimia Farma Trading & Distribution, dan pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, atas dukungan, kepercayaan dan kerjasama yang sudah terjalin dengan baik. Khusus untuk produk pria ini, saya juga senang karena selalu dilibatkan dan diajak diskusi, misalnya untuk pemilihan aroma, penentuan jenis produk yang mau dikeluarkan, pemilihan warna kemasan, sampai ke pemilihan nama,” jelas artis yang dikontrak selama 10 tahun oleh PT Meier Indonesia ini. Perasaan yang sama juga diutarakan oleh Siska Amelia, Runner Up 1 Puteri Indonesia tahun 2003 yang saat ini berprofesi sebagai Business Development Director sebuah perusahaan komputer di Tanah Air yang berafiliasi hingga ke Las Vegas, Amerika Serikat. “Saya senang dan bangga terpilih menjadi Duta Meier, khusus untuk perawatan kulit wanita. Ini adalah sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Produk Meier ini produk bagus dan sesuai untuk perawatan kulit wanita Indonesia,” tegas Siska
MEDC 2008 medco konsolidasi
Berencana akan mengembangkan bisnis di sektor energi nonmigas yaitu batubara atau batubara melalui Medco Mining dan Medco Agro.Saat ini perseroan tengah menjajaki untuk mengakuisisi beberapa kuasa pertambangan di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Perseroan menyiapkan US$50 juta untuk pengembangan tahap awal. Sementara kebutuhan dana investasi secara keseluruhan dalam 3 tahun kedepan untuk pengembangan 7 proyek utama, perseroan membutuhkan sekitar US$1.3M.
Berencana akan mengembangkan bisnis di sektor energi nonmigas yaitu batubara atau batubara melalui Medco Mining dan Medco Agro.Saat ini perseroan tengah menjajaki untuk mengakuisisi beberapa kuasa pertambangan di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Perseroan menyiapkan US$50 juta untuk pengembangan tahap awal. Sementara kebutuhan dana investasi secara keseluruhan dalam 3 tahun kedepan untuk pengembangan 7 proyek utama, perseroan membutuhkan sekitar US$1.3M.
Konsolidasi PT Indika Energy Tbk (INDY)2009
VIVAnews - PT Indika Energy Tbk (INDY) berharap kontribusi pendapatan PT Petrosea Tbk (PTRO) mampu mendongkrak pendapatan konsolidasi perusahaan pada 2009 menjadi US$ 300-400 juta.
Hal itu disebabkan oleh potensi konsolidasi seluruh pendapatan Petrosea terhadap kinerja keuangan konsolidasi perusahaan.
"Mungkin (pendapatan) bisa US$ 300-400 juta," kata Direktur Indika Energy Azis Armand usai konferensi pers perusahaan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Rabu 17 Juni 2009.
Azis menambahkan, sepanjang 2009, Indika menargetkan pendapatan konsolidasi tanpa Petrosea sebesar US$ 170-180 juta. Sementara itu, pendapatan Petrosea berpeluang mencapai US$ 200 juta. Pada 2008, pendapatan Petrosea tercatat US$ 206 juta.
Meski demikian, konsolidasi pendapatan baru akan dilakukan setelah proses akuisisi rampung pada 30 Juni 2009. Saat itu, seluruh pendapatan Petrosea akan dikonsolidasi ke Indika.
"Kapan akuisisi benar-benar terjadi akan menjadi waktu mulai diakuinya pendapatan dalam buku Indika," tuturnya.
Dia menambahkan, pihaknya siap melaksanakan penawaran 18,05 persen saham publik (tender offer) setelah akuisisi rampung. Indika telah menyiapkan dana kas internal sekitar US$ 18 juta.
Direktur Utama Indika Energy M Arsjad Rasjid menambahkan, harga akuisisi akan mempertimbangkan harga tertinggi saat akuisisi rampung. Perusahaan akan mengonversi harga saham saat akuisisi ke kurs rupiah. Saat ini, proses akuisisi masih mengacu dolar AS.
Azis menambahkan, tender offer akan dilaksanakan 2-3 bulan setelah akuisisi rampung. "Begitu close, kami akan langsung proses (tender offer)," katanya.
Selain itu, Arsjad mengungkapkan, rencana pelepasan kembali saham (refloat) masih belum dibicarakan perusahaan. Sebab, perusahaan fokus pada penyelesaian akuisisi. "Tapi, kami akan mengikuti peraturan yang berlaku," ujarnya.
Azis menambahkan, pendapatan Indika dan Petrosea tidak akan ada eliminasi. Sebelum transaksi akuisisi rampung, tidak ada kegiatan yang bisa dieksekusi oleh dua perusahaan itu.
"100 persen pendapatan Petrosea akan terkonsolidasi. Jika akuisisi close pada 30 Juni, minimal 50 persen pendapatan Petrosea terkonsolidasi," tuturnya.
Hal itu disebabkan oleh potensi konsolidasi seluruh pendapatan Petrosea terhadap kinerja keuangan konsolidasi perusahaan.
"Mungkin (pendapatan) bisa US$ 300-400 juta," kata Direktur Indika Energy Azis Armand usai konferensi pers perusahaan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Rabu 17 Juni 2009.
Azis menambahkan, sepanjang 2009, Indika menargetkan pendapatan konsolidasi tanpa Petrosea sebesar US$ 170-180 juta. Sementara itu, pendapatan Petrosea berpeluang mencapai US$ 200 juta. Pada 2008, pendapatan Petrosea tercatat US$ 206 juta.
Meski demikian, konsolidasi pendapatan baru akan dilakukan setelah proses akuisisi rampung pada 30 Juni 2009. Saat itu, seluruh pendapatan Petrosea akan dikonsolidasi ke Indika.
"Kapan akuisisi benar-benar terjadi akan menjadi waktu mulai diakuinya pendapatan dalam buku Indika," tuturnya.
Dia menambahkan, pihaknya siap melaksanakan penawaran 18,05 persen saham publik (tender offer) setelah akuisisi rampung. Indika telah menyiapkan dana kas internal sekitar US$ 18 juta.
Direktur Utama Indika Energy M Arsjad Rasjid menambahkan, harga akuisisi akan mempertimbangkan harga tertinggi saat akuisisi rampung. Perusahaan akan mengonversi harga saham saat akuisisi ke kurs rupiah. Saat ini, proses akuisisi masih mengacu dolar AS.
Azis menambahkan, tender offer akan dilaksanakan 2-3 bulan setelah akuisisi rampung. "Begitu close, kami akan langsung proses (tender offer)," katanya.
Selain itu, Arsjad mengungkapkan, rencana pelepasan kembali saham (refloat) masih belum dibicarakan perusahaan. Sebab, perusahaan fokus pada penyelesaian akuisisi. "Tapi, kami akan mengikuti peraturan yang berlaku," ujarnya.
Azis menambahkan, pendapatan Indika dan Petrosea tidak akan ada eliminasi. Sebelum transaksi akuisisi rampung, tidak ada kegiatan yang bisa dieksekusi oleh dua perusahaan itu.
"100 persen pendapatan Petrosea akan terkonsolidasi. Jika akuisisi close pada 30 Juni, minimal 50 persen pendapatan Petrosea terkonsolidasi," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar