MATA KULIAH : MANAJEMEN KEUANGAN II
TUGAS II
1.A. TAHUN 2008 :
Merger : Bank Lippo dan Bank Niaga melakukan merger
Merger Niaga dan Lippo merupakan dampak dari diterapkannya aturan kepemilikan tunggal (single presence policy/spp) yang ditetapkan Bank Indonesia. Ketentuan SPP mewajibkan kepemilikan tunggal bagi pemegang saham pengendali di lebih dari satu bank. oleh karena itu, Khazanah Berhad selaku pemilik Bank Niaga dan Lippo memutuskan untuk melakukan merger. Sebelum merger, Khazanah memiliki 93% saham bank Lippo melalui Santubong Investment BV dan Greatville Pte Ltd. Sedangkan di Bank Niaga sebesar 62,41% melalui CIMB Group penyedia jasa keuangan terbesar kedua di Malaysia milik Bumiputera-Commerce Holding Berhad (BCHB). Proses merger diperkirakan menelan dana sebesar Rp 1,112 triliun yang akan diambil dari dana internal CIMB, dengan perincian pengeluaran, 30 persen akan dikeluarkan pada 2008, pada 2009 dialokasikan 38% dan sisanya akan dikeluarkan pada 2010.Selain itu merger ke 2 bank ini mempunyai motivasi untuk menjadi bank internasional dan dapat memenuhi modal minimum yang telah ditetapkan yaitu 50 T.
1.B. TAHUN 2008 :
Akuisisi : Sun Life Akuisisi Asuransi Jiwa Pada 2008
PT Sun Life Financial Indonesia Tbk mengakuisisi perusahan asuransi jiwa untuk mendukung perkembangan bisnisnya guna semakin memperkokoh posisinya dalam pangsa pasar asuransi di Indonesia. "Ini strategi bisnis kami untuk menjadi lima besar dimanapun kami beroperasi di tahun 2012," Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indoensia, Barry Halpern, dalam siaran persnya, Jumat. Ia menambahkan, selain dengan melakukan akuisisi, pihaknya juga akan meperkuat jalur distribusi pada 2008 ini. "kami berencana untuk memperluas kehadiran kami di 2 hingga 3 kota lain di Indoensia dan menambah agen menjadi lebih dari 4000 agen," katanya. Saat ini, menurut dia, baru 32 kota yang telah dirambah oleh pihaknya. Selain itu, ia menambahkan, pihaknya akan memperbanyak jaringan kerjasama dengan berbagi mitra termasuk perbankan untuk mengembangkan bisnis bancassurance dan juga unit-linked. Ia juga menyatakan, pihaknya siap menggarap asuransi syariah serta aset manajemen. Hal ini karena, menurut dia, kedua pasar tersebut terus meningkat dari tahun-ke tahun. Sun Life saat ini tengah meluncurkan dua produk unit linked baru, yaitu "briliance xtra aggresive" dan "briliance xtra dynamic" yang masing-masing berbasis di reksadana saham dan campuran.
1.C. TAHUN 2008 :Konsolidasi : MEDC 2008 medco konsolidasi
Berencana akan mengembangkan bisnis di sektor energi nonmigas yaitu batubara atau batubara melalui Medco Mining dan Medco Agro.Saat ini perseroan tengah menjajaki untuk mengakuisisi beberapa kuasa pertambangan di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Perseroan menyiapkan US$50 juta untuk pengembangan tahap awal. Sementara kebutuhan dana investasi secara keseluruhan dalam 3 tahun kedepan untuk pengembangan 7 proyek utama, perseroan membutuhkan sekitar US$1.3M.
Berencana akan mengembangkan bisnis di sektor energi nonmigas yaitu batubara atau batubara melalui Medco Mining dan Medco Agro.Saat ini perseroan tengah menjajaki untuk mengakuisisi beberapa kuasa pertambangan di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Perseroan menyiapkan US$50 juta untuk pengembangan tahap awal. Sementara kebutuhan dana investasi secara keseluruhan dalam 3 tahun kedepan untuk pengembangan 7 proyek utama, perseroan membutuhkan sekitar US$1.3M.
2.A. TAHUN 2009 :
Merger : Bentoel dan BAT Indonesia merger.
PT Bentoel International Investama Tbk. dan PT BAT Indonesia telah menandatangani rencana penggabungan yang mengatur syarat-syarat mengenai penggabungan usaha yang telah diajukan oleh kedua perusahaan.
British American Tobacco Group pada Juni 2009 mengakuisisi 85,13 persem saham Bentoel dan kemudian melakukan penawaran tender kepada masyarakat untuk sisa saham Bentoel.
Penawaran diselesaikan pada Agustus 2000 dan British American Tobacco berhasil meningkatkan kepemilikan sahamnya di Bentoel menjadi 99,74 persen. British American Tobacco juga memiliki saham di BAT Indonesia sekitar 79 persen.
Setelah dilakukan penawaran tender dari Bentoel, suatu penilaian strategis dilakukan untuk menilai cara-cara yang dapat diambil untuk melakukan sinergi usaha yang mungkin ada antara Bentoel dan BAT Indonesia. Setelah dilakukan penilaian ini, Direksi dan Dewan Komisaris Bentoel dan BAT Indonesia mempunyai suatu pemahaman yang sama bahwa rencana merger antara Bentoel dan BAT Indonesia akan memberikan suatu kesempatan yang menarik untuk menggabungkan kekuatan kedua perusahaan.
British American Tobacco Group pada Juni 2009 mengakuisisi 85,13 persem saham Bentoel dan kemudian melakukan penawaran tender kepada masyarakat untuk sisa saham Bentoel.
Penawaran diselesaikan pada Agustus 2000 dan British American Tobacco berhasil meningkatkan kepemilikan sahamnya di Bentoel menjadi 99,74 persen. British American Tobacco juga memiliki saham di BAT Indonesia sekitar 79 persen.
Setelah dilakukan penawaran tender dari Bentoel, suatu penilaian strategis dilakukan untuk menilai cara-cara yang dapat diambil untuk melakukan sinergi usaha yang mungkin ada antara Bentoel dan BAT Indonesia. Setelah dilakukan penilaian ini, Direksi dan Dewan Komisaris Bentoel dan BAT Indonesia mempunyai suatu pemahaman yang sama bahwa rencana merger antara Bentoel dan BAT Indonesia akan memberikan suatu kesempatan yang menarik untuk menggabungkan kekuatan kedua perusahaan.
“Rencana penggabungan ini kami harap dapat memberi keuntungan lebih kepada para pemegang saham kedua perusahaan yang akan melakukan penggabungan,” kata Nicolaas dalam siaran pers yang diterima Tempo di Jakarta hari ini.
Akuisisi : Unileveler Plc telah mengakuisisi bisnis perawatan tubuh Sara Lee senilai 1.275 miliar euro atau US$1,87 miliar.
Akuisisi ini akan memperkuat posisi perusahaan asal Belanda tersebut di produk perawatan kulit dan deodoran. "Merek-merek SAra Lee telah dikenal kuat oleh konsumen sehingga menawarkan potensi pertumbuhan yang signifikan dan sangat pasar dengan bisnis Unilever saat ini," urai Paul. Merek-merek Sara Lee yang diakuisisi Unilever menghasilkan penjualanlebih dari 750 juta euro. Adapun laba sebelum pajak, bunga, depresiasi, dan amortisasinya mencapai 128 juta euro. Unilever saat ini sudah menguasai merek-merek terkenal seperti Lux, Dove, dan Sunsilk. [*/san/cms]
2.C. TAHUN 2009 :
Konsolidasi : Konsolidasi PT Indika Energy Tbk (INDY)2009
VIVAnews - PT Indika Energy Tbk (INDY) berharap kontribusi pendapatan PT Petrosea Tbk (PTRO) mampu mendongkrak pendapatan konsolidasi perusahaan pada 2009 menjadi US$ 300-400 juta.
Hal itu disebabkan oleh potensi konsolidasi seluruh pendapatan Petrosea terhadap kinerja keuangan konsolidasi perusahaan.
"Mungkin (pendapatan) bisa US$ 300-400 juta," kata Direktur Indika Energy Azis Armand usai konferensi pers perusahaan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Rabu 17 Juni 2009.
Azis menambahkan, sepanjang 2009, Indika menargetkan pendapatan konsolidasi tanpa Petrosea sebesar US$ 170-180 juta. Sementara itu, pendapatan Petrosea berpeluang mencapai US$ 200 juta. Pada 2008, pendapatan Petrosea tercatat US$ 206 juta.
Meski demikian, konsolidasi pendapatan baru akan dilakukan setelah proses akuisisi rampung pada 30 Juni 2009. Saat itu, seluruh pendapatan Petrosea akan dikonsolidasi ke Indika.
"Kapan akuisisi benar-benar terjadi akan menjadi waktu mulai diakuinya pendapatan dalam buku Indika," tuturnya.
Dia menambahkan, pihaknya siap melaksanakan penawaran 18,05 persen saham publik (tender offer) setelah akuisisi rampung. Indika telah menyiapkan dana kas internal sekitar US$ 18 juta.
Direktur Utama Indika Energy M Arsjad Rasjid menambahkan, harga akuisisi akan mempertimbangkan harga tertinggi saat akuisisi rampung. Perusahaan akan mengonversi harga saham saat akuisisi ke kurs rupiah. Saat ini, proses akuisisi masih mengacu dolar AS.
Azis menambahkan, tender offer akan dilaksanakan 2-3 bulan setelah akuisisi rampung. "Begitu close, kami akan langsung proses (tender offer)," katanya.
Selain itu, Arsjad mengungkapkan, rencana pelepasan kembali saham (refloat) masih belum dibicarakan perusahaan. Sebab, perusahaan fokus pada penyelesaian akuisisi. "Tapi, kami akan mengikuti peraturan yang berlaku," ujarnya.
Azis menambahkan, pendapatan Indika dan Petrosea tidak akan ada eliminasi. Sebelum transaksi akuisisi rampung, tidak ada kegiatan yang bisa dieksekusi oleh dua perusahaan itu.
"100 persen pendapatan Petrosea akan terkonsolidasi. Jika akuisisi close pada 30 Juni, minimal 50 persen pendapatan Petrosea terkonsolidasi," tuturnya.
Hal itu disebabkan oleh potensi konsolidasi seluruh pendapatan Petrosea terhadap kinerja keuangan konsolidasi perusahaan.
"Mungkin (pendapatan) bisa US$ 300-400 juta," kata Direktur Indika Energy Azis Armand usai konferensi pers perusahaan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Rabu 17 Juni 2009.
Azis menambahkan, sepanjang 2009, Indika menargetkan pendapatan konsolidasi tanpa Petrosea sebesar US$ 170-180 juta. Sementara itu, pendapatan Petrosea berpeluang mencapai US$ 200 juta. Pada 2008, pendapatan Petrosea tercatat US$ 206 juta.
Meski demikian, konsolidasi pendapatan baru akan dilakukan setelah proses akuisisi rampung pada 30 Juni 2009. Saat itu, seluruh pendapatan Petrosea akan dikonsolidasi ke Indika.
"Kapan akuisisi benar-benar terjadi akan menjadi waktu mulai diakuinya pendapatan dalam buku Indika," tuturnya.
Dia menambahkan, pihaknya siap melaksanakan penawaran 18,05 persen saham publik (tender offer) setelah akuisisi rampung. Indika telah menyiapkan dana kas internal sekitar US$ 18 juta.
Direktur Utama Indika Energy M Arsjad Rasjid menambahkan, harga akuisisi akan mempertimbangkan harga tertinggi saat akuisisi rampung. Perusahaan akan mengonversi harga saham saat akuisisi ke kurs rupiah. Saat ini, proses akuisisi masih mengacu dolar AS.
Azis menambahkan, tender offer akan dilaksanakan 2-3 bulan setelah akuisisi rampung. "Begitu close, kami akan langsung proses (tender offer)," katanya.
Selain itu, Arsjad mengungkapkan, rencana pelepasan kembali saham (refloat) masih belum dibicarakan perusahaan. Sebab, perusahaan fokus pada penyelesaian akuisisi. "Tapi, kami akan mengikuti peraturan yang berlaku," ujarnya.
Azis menambahkan, pendapatan Indika dan Petrosea tidak akan ada eliminasi. Sebelum transaksi akuisisi rampung, tidak ada kegiatan yang bisa dieksekusi oleh dua perusahaan itu.
"100 persen pendapatan Petrosea akan terkonsolidasi. Jika akuisisi close pada 30 Juni, minimal 50 persen pendapatan Petrosea terkonsolidasi," tuturnya.
laporan keuangan pt medco TBK 2009
3.A. TAHUN 2010
Merger : PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, perusahaan hasil merger PT Chandra Asri dengan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.
Untuk membangun industri hulu polietilen (PE) dan polipropilen (PP) dibutuhkan investasi yang berskala besar yakni minimal sekira USD300 juta dengan kapasitas produksi 300 ribu ton per tahun.
Sekretaris Perusahaan PT Chandra Asri Suhat Miyarso memaparkan, kebutuhan nasional akan PE diproyeksikan naik dari 840 ribu ton pada tahun ini menjadi 988 ribu ton pada tahun depan.
Sementara itu kebutuhan PP diprediksi naik dari 955 ribu ton menjadi 1,21 juta ton pada tahun depan. Sementara itu, kapasitas produksi PE pada tahun depan diprediksikan stagnan yaitu 770 ribu ton, dan PP naik dari 685 ribu ton menjadi 905 ribu ton per tahun.
Suhat mengatakan, kenaikan kapasitas produksi PP tersebut seiring dengan peningkatan kapasitas Chandra Asri sebesar 60 ribu ton dan Polytama sebesar 150 ribu ton. Hasil merger antara Chandra Asri dengan Tripolyta menjadi Chandra Asri Petrochemical, kata Suhat, mampu mendorong terjadinya efisiensi di industri hilir.
“Akuisisi PT Titan oleh Honam, pemain dari Korea Selatan, juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi PE pada masa mendatang sehingga mencukupi kebutuhan dalam negeri. Saat ini, bahan baku di hulu 100 persen masih diimpor. Chandra Asri masih impor 1,6 juta ton nafta dan ini menjadi masalah serius yang harus diselesaikan pemerintah,” tegasnya di Jakarta, Senin (22/11/2010).
Ketua Umum Asosiasi Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Tjokro Gunawan menjelaskan, keterbatasan suplai bahan baku masih menjadi kendala yang menghambat tumbuhnya industri hilir.
“Harga bahan baku naik diproyeksi terus meningkat, perang kurs akan menghantui dan memengaruhi harga plastik tahun depan. Aphindo menentang semua kebijakan impor yang menahan impor bahan baku karena bahan baku dari dalam negeri belum cukup. Kalau impor barang jadi yang diproteksi tidak masalah, bea masuk barang jadi sudah nol persen, bahan baku masih 15 persen,” kata Tjokro.
Direktur Jenderal Industri Berbasis Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengungkapkan, selama ini, sebagian besar kebutuhan bahan baku industri hulu dan hilir plastik dalam negeri memang masih didominasi oleh impor
3.B. TAHUN 2010 :
Akuisisi : PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) mengakuisisi 3.129 saham PT Margautama Nusantara senilai Rp 245 miliar.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Nusantara Infrastructure Danni Hasan mengungkapkan, Margautama Nusantara adalah pemegang 2596 saham PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB). "JLB merupakan operator ruas jalan tol Wl Kebon Jeruk-Penjaringan, Jakarta," jelas dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/9).
Saat ini, trafik kendaraan di ruas tol tersebut mencapai 35 ribu unit per hari dengan tarif Rp 7.000 per kendaraan. Selain Nusantara, saham JLB dimiliki PT Jasa Marga Tbk dan PT Bangun Tjipta Sarana.
Nusantara melalui beberapa anak usahanya juga menguasai tiga jalan tol, yakni Jakarta-Bumi Serpong Damai (7,25 km), Bosowa-Makassar (5,95 km), dan ruas tol Bandara Seksi IV Makassar (11,57 km). Nusantara berencana mengakuisisi ruas tol baru di Jakarta sebelum akhir tahun ini.
Belum lama ini, Nusantara sukses menggalang dana Rp 748,7 miliar dari hasil penawaran umum terbatas saham {rights issue). Perseroan menerbitkan 8,5 miliar saham baru dan 1,7miliar waran seri I. Konversi waran menjadi saham akan berlangsung pada 31 Januari 2011-19 Juli 2013, dengan harga pelaksanaan Rp 88 per saham.
Danni mengungkapkan, Infrastructure Growth Fund LP selaku pembeli siaga telah menyerap 7,11 miliar saham baru atau 83,69% dari total, saham yang diterbitkan Nusantara. Nilai transaksinya mencapai Rp 626 miliar atau pada harga Rp 88 per saham. "Rights issue sudah sejak 9 Agustus 2010," kata dia.
Infrastructure Fund merupakan instrumen investasi yang dikelola Emerging Infrastructure Management Co Pte Ltd (Singapura). Saat ini, Infrastructure Fund menguasai sekitar 52% saham Nusantara Infrastructure. Sisanya Grup Bosowa dan publik.
Nusantara telah memperoleh komitmen pembiayaan dari Infrastructure Fund senilai US$ 100 juta. Namun, pembiayaan tersebut berpeluang ditingkatkan menjadi US$ 150 juta. Bahkan, menurut Danni, Infrastructure Fund mampu menyediakan dana hingga US$ 1-2 miliar.
Sementara itu, hingga Juni 2010, Nusantara merealisasikan belanja modal {capital expenditure/capex) Rp 10-15 miliar. Namun, penggunaan dana tersebut hanya untuk belanja rutin. Hingga akhir tahun, perseroan mengalokasikan capex sebesar Rp 23 miliar. (jau)
3.C. TAHUN 2010 :
Konsolidasi : PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan konsolidasi terhadap empat anak usahanya yang bergerak dalam bidang usaha nonbatu bara ke dalam PT Bumi Resources Mineral (BRM). Keempat anak usaha itu terdiri dari Lemington Investment Pte Ltd (yang dimiliki Bumi Mauritania SA dan Konblo Bumi Inc), Calipso Investment Pte Ltd (yang memiliki Herald Resources Ltd), PT Citra Palu Minerals dan PT Multi Capital (yang memiliki PT Newmont Nusa Tenggara).
"Konsolidasi ini untuk restrukturisasi internal dalam rangka mengelompokkan perusahaan-perusahaan ke dalam kelompok batu bara dan nonbatu bara," kata Direktur BUMI Eddie J Soebari dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin.
BRM sendiri merupakan anak perusahaan yang 99,99% sahamnya dimiliki BUMI. Konsolidasi dilakukan BUMI melalui peningkatan modal BRM. Sebagian besar dana akan digunakan BRM untuk mengambil alih tagihan milik BUMI kepada anak-anak perusahaan nonbatu bara perseroan. "Tagihan-tagihan tersebut selanjutnya dikonversi oleh BRM menjadi saham di anak-anak perusahaan nonbatu bara tersebut," ujarnya.
Senior Vice President Investor Relations BUMI Dileep Srivastava mengatakan pihaknya melihat konsolidasi ini sebagai langkah strategis bagi perseroan untuk meningkatkan potensi baik bagi kelompok bisnis batu bara maupun bisnis nonbatu bara. "Dengan membuat segmentasi, kedua kelompok usaha perseroan dapat menyadari besarnya potensi yang dimiliki masing-masing bagi kebaikan pemegang saham maupun negara," katanya ketika dihubungi Media Indonesia. (AT/E-7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar